• PP AL MASDA RANCAMAYA
  • ''MEMBENTUK GENERASI BERAKHLAK AL QUR'AN''

Tekstualitas-Historis Perjalanan Isra' dan Mi'raj Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam

Salah satu peristiwa penting nan agung yang terjadi pada bulan Rajab ialah perjalanan Isra' dan Mi'raj Rasulullah SAW. Kejadian tersebut jika menilik terlebih dahulu pada sirah Nabi Muhammad SAW. sebelumnya, akan menemukan titik keterkaitan, bahwa Isra' dan Mi'raj (bisa jadi) adalah cara Allah untuk menghibur Nabi Muhammad SAW. --Yang tengah dilanda kedukaan mendalam atas wafatnya pamannya, Abu Thalib bin Abdul Muthalib dan istrinya, Khadijah bint Khuwailid. Peristiwa tersebut menjadi pengalaman yang luar biasa baginya, juga menjadi bagian penyempurnaan agama Islam.

Definisi Istilahi Isra' dan Mi'raj

Isra' etimologisnya berasal dari bahasa Arab إسراء  (isra'), bentukan mashdar dari أَسْرَى - يُسْرِى - إِسْرَا , dari akar kata سَرَى - يُسْرِي - سِرَايَة   dalam bahasa Indonesia diartikan berjalan di malam hari. Terminologi isra' adalah perjalanan (horizontal) Nabi Muhammad SAW. pada satu malam dari Masjid al-Haram di Mekkah menuju Masjid al-Aqsha di Palestina.

Mi'raj dalam bahasa Arab adalah isim alat (mashdar) yaitu مِعْرَاج   artinya alat untuk naik / mendaki. Kata kerjanya (fi'il) عَرَجَ  yang berarti naik/mendaki. Maka secara harfiah, mi’raj berarti tangga untuk naik. Namun, dari terminologinya, mi’raj berarti perjalanan (vertikal) Rasulullah SAW setelah isra’ naik menembus tingkatan langit menuju batas tertinggi sidratul muntaha, sebuah tempat diluar batas jangkauan pengetahuan makhluk baik malaikat, manusia maupun jin.

Isra’ dan mi’raj merupakan dua peristiwa yang berbeda. Isra’ adalah rihlah ardhiyyah (perjalanan bumi) dan mi’raj adalah rihlah samawiyyah (perjalanan langit). Namun keduanya terjadi dalam satu malam yang sama.

Tekstualitas Al-Qur'an dan Hadis tentang Isra' Mi'raj

Peristiwa Isra' dan Mi'raj diabadikan dalam beberapa ayat Al-Qur'an dan juga diriwayatkan dalam beberapa hadis. Hanya ada dua surah dalam al-Qur'an yang memuat substansi tema isra' mi'raj, QS. Al-Isra: 1, dan QS. An-Najm. QS. Al-Isra' ayat 1 menyuratkan peristiwa Isra', sedangkan QS.An-Najm menyuratkan peristiwa Mi'raj.

سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

"Maha Suci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya) agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat."

Pada ayat tersebut, Allah SWT. menyatakan kemahasucian-Nya dengan firman “subḥāna”, agar manusia mengakui kesucian-Nya dari sifat-sifat yang tidak layak dan meyakini sifat-sifat keagungan-Nya yang tiada tara. Ungkapan itu juga sebagai pernyataan tentang sifat kebesaran-Nya yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam, dengan perjalanan yang sangat cepat.

Dari kata asrā’ dapat dipahami bahwa Isrā’ Nabi Muhammad SAW. terjadi di waktu malam hari, karena kata asrā dalam bahasa Arab berarti perjalanan di malam hari. Penyebutan lailan, dengan bentuk isim nakirah, yang berarti “malam hari”, adalah untuk menggambarkan bahwa kejadian Isrā’ itu mengambil waktu malam yang singkat dan juga untuk menguatkan pengertian bahwa peristiwa Isrā’ itu memang benar-benar terjadi di malam hari. Allah swt meng-isrā’-kan hamba-Nya di malam hari, karena waktu itulah yang paling utama bagi para hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah, dan waktu yang paling baik untuk beribadah kepada-Nya.

Perkataan ‘abdihi (hamba-Nya) dalam ayat ini maksudnya ialah Nabi Muhammad saw yang telah terpilih sebagai nabi yang terakhir. Beliau telah mendapat perintah untuk melakukan perjalanan malam, sebagai penghormat-an kepadanya.

Dalam ayat ini tidak diterangkan waktunya secara pasti, baik waktu keberangkatan maupun kepulangan Nabi Muhammad saw kembali ke tempat tinggalnya di Mekah. Hanya saja yang diterangkan bahwa Isrā’ Nabi Muhammad saw dimulai dari Masjidilharam, yaitu masjid yang terkenal karena Ka’bah (Baitullah) terletak di dalamnya, menuju Masjidil Aqsa yang berada di Baitul Makdis. Masjid itu disebut Masjidil Aqsa yang berarti “terjauh”, karena letaknya jauh dari kota Mekah.

Selanjutnya Allah swt menjelaskan bahwa Masjidil Aqsa dan daerah-daerah sekitarnya mendapat berkah Allah karena menjadi tempat turun wahyu kepada para nabi. Tanahnya disuburkan, sehingga menjadi daerah yang makmur. Di samping itu, masjid tersebut termasuk di antara masjid yang menjadi tempat peribadatan para nabi dan tempat tinggal mereka.

Sesudah itu, Allah menyebutkan alasan mengapa Nabi Muhammad saw diperjalankan pada malam hari, yaitu untuk memperlihatkan kepada Nabi tanda-tanda kebesaran-Nya. Tanda-tanda itu disaksikan oleh Muhammad saw dalam perjalanannya dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa, berupa pengalaman-pengalaman yang berharga, ketabahan hati dalam menghadapi berbagai macam cobaan, dan betapa luasnya jagat raya serta alangkah Agungnya Allah Maha Pencipta. Pengalaman-pengalaman baru yang disaksikan Nabi Muhammad sangat berguna untuk memantapkan hati beliau menghadapi berbagai macam rintangan dari kaumnya, dan meyakini kebenaran wahyu Allah, baik yang telah diterima maupun yang akan diterimanya.

Di akhir ayat ini, Allah swt menjelaskan bahwa Dia Maha Mendengar bisikan batin para hamba-Nya dan Maha Melihat semua perbuatan mereka. Tak ada detak jantung, ataupun gerakan tubuh dari seluruh makhluk yang ada di antara langit dan bumi ini yang lepas dari pengamatan-Nya.

Hampir seluruh ahli tafsir berpendapat bahwa peristiwa Isrā’ terjadi setelah Nabi Muhammad diutus menjadi rasul. Peristiwanya terjadi satu tahun sebelum hijrah. Demikian menurut Imam az-Zuhrī, Ibnu Sa’ad, dan lain-lainnya. Imam Nawawi pun memastikan demikian. Bahkan menurut Ibnu Ḥazm, peristiwa Isrā’ itu terjadi di bulan Rajab tahun kedua belas setelah pengangkatan Muhammad menjadi nabi. Sedangkan al-Ḥāfiẓ ‘Abdul Gani al-Maqdisī memilih pendapat yang mengatakan bahwa Isrā’ dan Mi’raj tersebut terjadi pada 27 Rajab, dengan alasan pada waktu itulah masyarakat melaksanakannya.

Adapun hadis-hadis yang menjelaskan terjadinya Isrā’ itu sebagai berikut:

Pertama:

قَالَ أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ: لَيْلَةَ اُسْرِيَ بِرَسُوْلِ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ مَسْجِدِ الْكَعْبَةِ أَنَّهُ جَاءَهَ ثَلَاثَةُ نَفَرٍ قَبْلَ أَنْ يُوْحَى إِلَيْهِ وَهُوَ نَائِمٌ فِى الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ فَقَالَ أَوَّلُهُمْ: أَيُّهُمْ هُوَ؟ فَقَالَ أَوْسَطُهُمْ: هُوَ خَيْرُهُمْ. فَقَالَ آخِرُهُمْ: خُذُوْا خَيْرَهُمْ، فَكَانَتْ تِلْكَ اللَّيْلَةَ فَلَمْ يَرَهُمْ حَتَّى أَتَوْهُ لَيْلَةً أُخْرَى فِيْمَا يَرَى قَلْبُهُ وَتَنَامُ عَيْنُهُ وَلَا يَنَامُ قَلْبُهُ وَكَذٰلِكَ اْلأَنْبِيَاءُ تَنَامُ أَعْيُنُهُمْ وَلَا يَنَامُ قَلْبُهُمْ- فَلَمْ يُكَلِّمُوْهُ حَتَّى احْتَمَلُوْا فَوَضَعُوْهُ عِنْدَ بِئْرِ زَمْزَمَ فَتَوَلَاهُ مِنْهُمْ جِبْرِيْلُ فَشَقَّ جِبْرِيْلُ مَا بَيْنَ نَحْرِهِ إِلَى لِبَّتِهِ حَتَّى فَرَغَ مِنْ صَدْرِهِ وَجَوْفِهِ فَغَسَلَهُ مِنْ مَاءِ زَمْزَمَ بِيَدِهِ حَتَّى أَنْقَى جَوْفَهُ ثُمَّ أَتَى بِطَشْتٍ مِنْ ذَهَبٍ فِيْهِ نُوْرٌ مِنْ ذَهَبٍ مَحْشُوٍّ إِيْمَانًا وَحِكْمَةً فَحَشَابِهِ صَدْرَهُ وَلَغَادِيْدَهُ يَعْنِى عُرُوْقَ حَلْقِهِ ثُمَّ اَطْبَقَهُ. (رواه البخاري)

"Anas bin Malik menuturkan bahwa pada malam diperjalankannya Rasulullah saw dari Masjidilharam, datanglah kepadanya tiga orang pada saat sebelum turunnya wahyu, sedangkan Rasul pada waktu itu sedang tidur di Masjidilharam. Kemudian berkatalah orang yang pertama, “Siapakah dia ini?” Kemudian orang kedua menjawab, “Dia adalah orang yang terbaik di antara mereka (kaumnya).” Setelah itu berkatalah orang ketiga, “Ambillah orang yang terbaik itu.” Pada malam itu Nabi tidak mengetahui siapa mereka, sehingga mereka datang kepada Nabi di malam yang lain dalam keadaan matanya tidur sedangkan hatinya tidak tidur. Demikianlah para nabi, meskipun mata mereka terpejam, namun hati mereka tidaklah tidur. Sesudah itu rombongan tadi tidak berbicara sedikit pun kepada Nabi hingga mereka membawa Nabi dan meletakkannya di sekitar sumur Zamzam. Di antara mereka ada Jibril yang menguasai diri Nabi, lalu Jibril membelah bagian tubuh, antara leher sampai ke hatinya, sehingga kosonglah dadanya. Sesudah itu Jibril mencuci hati Nabi dengan air Zamzam dengan menggunakan tangannya, sehingga bersihlah hati beliau. Kemudian Jibril membawa bejana dari emas yang berisi iman dan hikmah. Kemudian dituangkanlah isi bejana itu memenuhi dada beliau dan urat-urat tenggorokannya lalu ditutupnya kembali." (Riwayat al-Bukhārī)

Kedua:

اِذْ أَتَانِي آتٍ فَقَدَّ فَاسْتَخْرَجَ قَلْبِي، ثُمَّ أُتِيْتُ بِطَشْتٍ مِنْ ذَهَبٍ مَمْلُوْءَةٍ إِيْمَانًا، فَغَسَلَ قَلْبِي ثُمَّ حُشِيَ (أُعِيْدَ) (رواه البخاري عن صعصعة)

"Bahwa Nabi saw bersabda, “Tiba-tiba datang kepadaku seseorang (Jibril). Kemudian ia membedah dan mengeluarkan hatiku. Setelah itu dibawalah kepadaku bejana yang terbuat dari emas yang penuh dengan iman, lalu ia mencuci hatiku. Setelah itu menuangkan isi bejana itu kepadaku. Kemudian hatiku dikembalikannya seperti sediakala”. (Riwayat al-Bukhārī dari Sa’ṣa’ah)

Ketiga:

أَنَّ رَسُوْلَ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: أُتِيْتُ بِالْبُرَاقِ وَهُوَ دَابَّةٌ أَبْيَضُ فَوْقَ الْحِمَارِ وَدُوْنَ الْبِغَالِ يَضَعُ حَافِرَهُ عِنْدَ مُنْتَهَى طَرْفِهِ فَرَكِبْتُهُ فَسَارَ بِي حَتَّى أَتَيْتُ بَيْتَ الْمَقْدِسِ فَرَبَطْتُ الدَّابَّةَ بِالْحَلْقَةِ الَّتِى يَرْبِطُ فِيْهَا الْأَنْبِيَاءُ ثُمَّ دَخَلْتُ فَصَلَّيْتُ فِيْهِ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ خَرَجْتُ فَأَتَانِى جِبْرِيْلُ بِإِنَاءٍ مِنْ خَمْرٍ وَإِنَاءٍ مِنْ لَبَنٍ فَاخْتَرْتُ اللَّبَنَ فَقَالَ جِبْرِيْلُ أَصَبْتَ الْفِطْرَةَ. (رواه أحمد عن أنس بن ملك)

"Bahwa Rasulullah saw bersabda, “Didatangkan kepadaku Buraq, yaitu binatang putih lebih besar dari himār, dan lebih kecil dari bigāl. Ia melangkahkan kakinya sejauh pandangan mata. Kemudian saya mengendarainya, lalu ia membawaku sehingga sampai ke Baitul Makdis. Kemudian saya mengikatnya pada tempat para nabi mengikatkan kendaraannya. Kemudian saya salat dua rakaat di dalamnya, lalu saya keluar. Kemudian Jibril membawa kepadaku sebuah bejana yang berisi minuman keras (khamar) dan sebuah lagi berisi susu; lalu saya pilih yang berisi susu, lantas Jibril berkata, “Engkau telah memilih fitrah sebagai pilihan yang benar.” (Riwayat Aḥmad dari Anas bin Mālik)

Tekstualitas Mi'raj

Peristiwa mi’raj, secara implisit direkam oleh al-Qur’an dalam beberapa ayat dari awal hingga akhir surat al-Najm 53. Dalam surat al-Najm tersebut, Allah SWT memberikan informasi bahwa Nabi Muhammad SAW. melihat rupa asli malaikat Jibril dan juga keberadaan Nabi SAW di sidratul muntaha yang semuanya terjadi dalam keadaan sadar.

Selain dalil al-Qur'an, terdapat pula riwayat hadis yang menjelaskan peristiwa isra' mi’raj dari yang sahih, hasan hingga dhaif. Dari redaksi matan hadis yang ditakhrijkan dari riwayat Imam Bukhari nomor 3207, 3393, 3430, 3887 dan Imam Muslim nomor 264, dan 265, dapat dikupas ringkas peristiwa Mi'raj yang dialami Rasulullah SAW.

  1. Rasulullah SAW. diberi seekor hewan tunggangan berwarna putih yang lebih kecil dari pada baghal namun lebih besar dibanding keledai. Tunggangan itu bernama al-Buraq. Dengan Buraq itu, Rasulullah SAW. bersama dengan malaikat Jibril menembus lapisan langit hingga lapis ketujuh
  2. Berjumpa Nabi Adam as. di langit yang pertama
  3. Berjumpa Nabi Isa as. dan Yahya as. di langit yang kedua
  4. Berjumpa Nabi Yusuf as. di langit yang ketiga
  5. Berjumpa Nabi Idris as. di langit yang keempat
  6. Berjumpa Nabi Harun as. di langit dunia yang kelima
  7. Berjumpa Nabi Musa as. di langit yang keenam
  8. Berjumpa Nabi Ibrahim as. di langit yang ketujuh

Pada peristiwa mi’raj yang tidak dijelaskan dengan rinci, Allah SWT ingin memahamkan kepada hamba-hamba-Nya tentang hal-hal ghaib yang tidak mampu dicerna oleh akal manusia, yakni dengan cara membandingkan hal-hal ghaib tersebut dengan hal-hal nyata yang bisa dijangkau oleh akal agar mudah difahami bahwa hal ghaib itu sangat mungkin bisa terjadi. Namun saat kejadian mi’raj, sangatlah sulit untuk menjelaskan pengalaman yang tidak mampu dijangkau oleh akal, seperti keadaan baitul makmur, sidratul muntaha dan pengalaman lainnya kepada orang-orang yang masih mengandalkan akal dan bukti empiris.

 

Penulis : Isyarotul Imamah, Mahasiswa UIN SAIZU, Fakultas Ushuludin, Adab dan Humaniora

 

Daftar Pustaka

Al-Qur'an al-Kariim

Al-Lu'lu' wal Marjan: Kumpulan Hadits Shahih Bukhari Muslim, Muhammad Fuad Abdul Baqi

Al-Isra' wa al-Mi'raj wa Dzikru Ahaditsihima wa Takhrijiha wa Bayan Sahihiha min Saqimiha, Muhammad Nashir al-Din al Bany

Al-Sirah al-Nabawiyah: Durus wa 'Ibar, Mustafa al-Ba'i

Fiqh al-Sirah: Dirasat Manhajiyah Ilmiyyah Lisirati Al-Musthafa, Muhammad Said Ramdhani al-Buthy

Tafsir Tahlili Al-Qur'an dan Terjemahnya, Kemenag RI

Rihlah Semesta Bersama Jibril AS, Tim Forum Kajian Ilmiah KASYAF

Komentar

Artikelnya sangat bagus, semoga bermanfaat bagi kita semua

Menambah wawasan baru, sehingga pembaca merasa nyaman akan setiap tulisan dan memahami sumber dalil yang dengan kualitas keshohihanya. Terimakasih untuk penulis yang mau mencurahkan niat untuk menebarkan kebaikan. Semoga bermanfaat mari ciptakan indonesia minat baca.

Sangat bermanfaat, dari artikel di atas kita dapat mengetahui sejarah isra' wal mi'roj disertai dengan dalil dalil shohih. Jadi, pembacapun tidak ragu lagi dengan keabsahannya.

Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Mengulas Kisah Tentang Ibadah Shalat yang Disyariatkan Pada Nabi dan Rasul Terdahulu

almasda.or.id-Seringkali menjadi pertanyaan di kalangan umat muslim, bagaimanakah dan atau adakah ibadah shalat Nabi-Nabi terdahulu sebelum Rasulullah shalallahu 'alaihi wa Sallam. ? Na

05/03/2023 22:46 - Oleh Admin - Dilihat 3115 kali
Seputar Maulid Nabi SAW Sejarah, Makna, dan Esensi Peringatannya

‘Maulid’ / ‘Maulud’ –begitu umat Islam menyebutnya– merupakan salah satu dari 7 hari besar Islam (Tahun Baru Hijriah, Maulid Nabi Muhammad ., Isra&rs

14/10/2021 20:50 - Oleh muhammad azhar nurusyifa - Dilihat 1690 kali