• PP AL MASDA RANCAMAYA
  • ''MEMBENTUK GENERASI BERAKHLAK AL QUR'AN''

Tenggelam di Kalam-Mu

Matahari sedang bersiap kembali ke peraduannya. Langit yang tadi tampak biru cerah perlahan menyemburatkan kemilau jingganya. Burung-burung yang telah mengembara terlihat bergerombol hendak pulang dengan tak lupa menggaungkan suara khasnya. Hari menjelang malam.

Namun, hal ini tidak membuat gadis berlesung pipit itu beranjak dari tempat duduknya. Safa, namanya. Agaknya sudah setengah hari dia duduk termenung di taman ini. Matanya tertuju pada tanah lapang di sebelah taman. Namun, terlihat jelas bahwa matanya tidak benar-benar mendarat ke sana. Dia tampak kacau saat ini. Dia melamun.

Sesekali mata lentiknya itu meneteskan bulir air mata. "Kapan hari kematianku tiba?" hening. Dia tak mendapati balasan apapun saat kalimat itu terlontar dari mulutnya. Kalimat yang sangat gila. "Aku... ingin mati saja," ucapnya kembali. Dia seperti sudah sangat putus asa.

Ya, dunianya sedang hancur saat ini. Kemarin, ibunya berpulang ke Rahmatullah. Satu-satunya orang yang dia punya akhirnya meninggalkannya sendiri di dunia yang kejam ini. Di usianya yang beranjak dewasa, ia harus menelan kenyataan pahit bahwa dia sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi. Menyedihkan.

Sayup-sayup adzan Magrib terdengar, namun tetap saja tak membuat Safa beranjak. Tiba-tiba saja gerimis datang mengguyur taman, namun Safa sepertinya tidak akan meninggalkan tempat duduknya, membuat tubuh mungilnya sedikit menggigil. Semakin lama hujan semakin deras, hingga akhirnya Safa tak sadarkan diri.

 

* * *

"Aku... masih hidup?" terdengar lemah sekali suara itu. Bola matanya pun tampak begitu sayu. Namun, telinganya masih kuat menangkap sebuah suara di sekitarnya. Dimana ia? Ini semacam suara lantunan Al-Qur'an. Siapakah orang yang tengah melantunkan ayat-ayat dengan bagusnya itu?

Lantunan itu terhenti saat terlontar suara payah darinya. Ya, Safa telah terbangun dari pingsannya. Bajunya yang tadi basah sudah diganti dengan baju lengan panjang yang hangat. Dan, dia sudah berada di rumah kayu bersama wanita paruh baya yang tengah membaca Al-Qur'an tadi.

"Shodaqollaahu 'adziim,"

"Akhirnya kau sudah siuman," ujar wanita paruh baya itu sembari tersenyum kepada Safa. Diberikannya air mineral hangat dan menyilakan Safa untuk meminumnya.

"Saya Arumi. Hujan-hujan tadi saat saya mau pulang dari mencari rongsok, saya tidak sengaja menjumpaimu di taman. Kau terlihat begitu payah sampai pingsan begitu," ucap wanita paruh baya itu memperkenalkan diri dan menceritakan bagaimana Safa bisa di rumahnya saat ini.

"Terima kasih, Bu," jawab Safa lirih.

"Siapa namamu, Nak?"

"Safa, Bu. Safa Alzaena."

"Masya Allah, cantik sekali namanya," ucap Bu Arumi sambil menyodorkan bubur hangat kepada Safa.

"Makan dulu. Setelah tenang, kau katakan apa yang tengah terjadi padamu ya," ujar Bu Arumi lagi sambil tersenyum amat lebar. Safa yang sedari tadi masih lemah hanya mengangguk sekenanya.

Beruntungnya Safa. Dia ditemukan oleh wanita baik hati, tergambar jelas dari senyum tulusnya itu.

* * *

"Jadi, kapan terakhir kali kau shalat?" tanya Bu Arumi. Safa hanya menggeleng malu. Di usianya yang hampir menginjak dua puluh, dia sudah lama sekali meninggalkan ibadah wajib yang satu ini. Dia sama sekali menyesal karena dahulu sering bertindak tak baik kepada ibunya. Ya, setelah ibunya tiada dia baru merasa bahwa tanpanya dia tak berdaya dan tanpanya pula, dia hampa.

"Dulu ibu sering menginginkanku berhenti berfoya-foya, tapi aku tidak mengindahkannya. Aku sering keluar malam, clubbing, pesta pora dengan teman-temanku sampai aku terjerat hutang puluhan juta demi gengsi. Ibu syok saat mendengarnya dari debt collector yang datang ke rumahku. Semua harta ibuku habis hanya untuk membayar hutangku. Sementara aku tidak bekerja. Kemudian besoknya, ibu dipanggil oleh-Nya,"

"Saat ini, aku sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi. Tidak memiliki apa-apa lagi. Teman-teman yang dulu sering bermain bersama, mereka tidak tau pergi ke mana." Bu Arumi memeluk pundak Safa erat, dia seperti mampu merasakan apa yang Safa rasakan saat ini. Safa yang seperti kehilangan arah.

"Sekarang, bertaubat kepada Allah. Kita mendekat kepada-Nya dan do'akan yang terbaik untuk ibumu. Serta ayahmu?" mendengar pertanyaan tersebut,

Safa hanya mampu mendesis kesal.

"Dia mahluk biadab yang seharusnya tidak pantas hidup. Titisan dajjal yang seharusnya mati saja. Dia pergi entah kemana saat adikku masih di dalam kandungan. Aku saat itu masih delapan tahun. Bapak orang yang hobi selingkuh. Saat kepergok sedang berduaan dengan wanita lain, dia malah menendang perut ibuku yang menyebabkan adikku tidak bisa terselamatkan.

"Ibuku pun mengalami cedera rahim yang mengakibatkan rahimnya harus diangkat. Saat itu pula Bapak pergi entah kemana. Dia benar-benar iblis." Safa menceritakan kisah hidupnya dengan nafas yang memburu. Bu Arumi makin memeluk erat tubuh gadis mungil itu. Tak nyana kehidupan yang dilewati Safa ternyata tidak mudah.

"Istighfar, Nak. Kamu anak kuat," ujar Bu Arumi sambil mengelus pundak Safa. Safa kali ini sudah tak kuasa lagi membendung air matanya yang sedari tadi memaksa tuk keluar.

"Ibu pernah hampir mau menikah lagi sepeninggal Bapak minggat, namun gagal. Karena ternyata Ibu hanya dimanfaatkan saja oleh calon suaminya itu. Akhirnya, sampai beliau meninggal, Ibu memilih untuk tetap sendiri. Harta satu-satunya yang Ibu punya hanya Safa, namun Safa benar-benar sudah gelap mata. Safa menyesal karena telah mengecewakan Ibu," tangis Safa pecah lebih keras.

Bu Arumi pun hanya mampu terdiam mendengar penuturannya. Dia hanya bisa memeluk gadis malang ini. Bagaimana pun juga, Safa butuh dukungan dan pelukan.

"Ibu ada di sini, Safa. Anggap saja Bu Arumi ini ibumu. Safa sudah hebat mau mengakui kesalahannya yang lalu. Dan Safa juga hebat akan berusaha berubah supaya ibumu bahagia di surga-Nya. Sekarang, kita shalat yuk, supaya hatimu tenang!"

 

* * *

 

Semilir angin malam terasa begitu menusuk tulang. Terlihat di hamparan langit sana tampak kosong. Bintang-bintang tak ada satupun yang terlihat, hanya tersisa arakan awan tipis. Tidak terasa, malam ini adalah malam ketiga puluh Safa hidup bersama Bu Arumi. Kehidupannya berubah seratus delapan puluh derajat dengan yang lalu.

Safa dulu yang hedon, suka clubbing, tidak memiliki tujuan hidup, hidupnya tak tentu arah berubah menjadi Safa yang shalihah, rambut panjangnya sudah terbalut hijab dengan rapi. Mulutnya gemar berdzikir dan bertadarus. Setiap malam dia mengaji Al-Qur'an ke Bu Arumi. Dia juga ikut Bu Arumi mencari rongsok untuk kemudian dijual ke pengepul. Hal ini dilakukan untuk kebutuhan sehari-hari.

Lihatlah di sana! Di dipan itu, Safa tengah asyik melafalkan ayat-ayat Al-Qur'an. Meskipun masih terdengar terbata-bata, terlihat jelas bahwa dia begitu berusaha sepenuhnya untuk mampu membaca dan memahaminya dengan benar.

 

* * *

 

"Dimana ini? Kok putih semua?" Senyap. Tidak ada sahutan.

"Kenapa itu silau sekali?!" Safa terheran-heran. Entah sedang ada di mana dia saat ini. Yang ia lihat seperti jalan yang penuh dengan cahaya, putih terang benderang, dan di ujung yang agak jauh terdapat cahaya yang begitu silau namun tidak menyakitkan.

Dia jalan perlahan dengan penuh hati-hati. Kakinya seolah terasa sangat ringan tuk dijalankan. Tubuhnya terasa sejuk namun tidak dingin. "Ini seperti dunia yang sangat aneh!" pikir Safa tak percaya.

Yang terasa aneh lagi, Safa melihat di setiap pohon yang dia jumpai tertempel semacam secarik kertas yang di dalamnya terdapat ayat-ayat Al-Qur'an. Kertas itu berupa emas. Ayat-ayat Al-Qur'an tersebutpun berkilau dengan sangat cantik.

Deg! Safa bisa membacanya dengan tartil. Aneh. Bukannya tadi dia masih terbata-bata? Ini luar biasa.

"Anakku...," suara ini terdengar tidak asing di telinga Safa. Suara yang dia rindukan selama ini. Suara yang tanpa ia nyana terdengar lagi. Safa mencari-cari dimana sumber suara itu. Suara itu masih saja memanggil nama Safa dengan sangat halus.

"Ibu....," teriak Safa ketika mendapati sosok ibunya tepat di depannya. Tak tunggu waktu lama mereka berpelukan dengan sangat eratnya disertai tangis Safa yang seketika pecah dengan hebatnya. Pita suaranya tercekat tak mampu berkata-kata. Yang dia bisa lontarkan hanya tangisan kebahagiaannya saat ini.

Lama sekali mereka menangis dalam pelukan hangat itu. Pelukan yang Safa rindukan, sosok yang sangat dia harapkan bisa kembali lagi. Ah, cukup! Tulisan ini akan terasa singkat untuk menggambarkan suasana haru itu.

Tak beberapa lama, tubuh Safa terseret terpental ke arah yang berlawanan dengan ibunya. Dug! Safa terbangun dari mimpi indahnya.

"Ibu... mana ibu? Ini tadi mimpi? Ibu? Safa ingin memeluk Ibu sekali lagi. Safa rindu Ibu. Safa ingin sekali lagi membaca Al-Qur'an dengan tartil di depan Ibu...," Safa menangis sekali lagi.

Mimpi yang sangat indah. Dia tenggelam dalam kalam-kalam-Nya yang selama ini ia usahakan mampu untuk membacanya dengan tartil. Dia pun tenggelam bersama kerinduan yang dia tujukan kepada Ibundanya.

"Tuhan.... izinkan sekali lagi aku tenggelam di kalam-Mu," Pelan, air mata itu menjadi saksi bisu akan kerinduan Safa kepada-Nya dan ibu tercintanya.

 

TAMAT

 

Yulia Lutfiatun Hasna

Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
MENARA GADING

Ketika kau mengawali Hari dengan hati yang gelisah  Dan penuh dengan masalah Apakah kau mampu sampai pada Perjalanan terjal?   Jalan yang tak kau sendiri ketahui Waktu

20/02/2024 08:52 - Oleh Admin - Dilihat 44 kali
Ya Nabi Ya Rasulallah SAW

Sungguh hari yang bahagiaDimana orang orang seakan mati rasa Entah ingin menangis entah bahagiaKeduanya terbalut bersama shalawat atas Rasul-Nya Rabbiul awwal telah tibaMengajak kita

09/10/2023 12:24 - Oleh Admin - Dilihat 309 kali
Dari rasa ingin pulang kini berubah menjadi ingin berjuang

Di pondok kita tinggalDisitu kita menimba ilmuAdakah rasa ingin pulang? Ya, tentu ada... Dirasa kita ingin pulangDirumah orang tua sedang berjuang Ayah,,, ibu,,, maafkan anakmu ini y

18/05/2023 09:10 - Oleh Admin - Dilihat 1226 kali
Indah Dalam Nama

Indah dalam namaSyahdu kala di ucapYang tak sukae kala di ucap Tertera indah dalam kataMengiringi ribuan maknaSingkat namun memikatSeakan semua hal telah terikat Menghiasi satu kataYa

13/05/2023 16:58 - Oleh Admin - Dilihat 1146 kali
Tapak Tilas Anak Pesantren

  Jauh Dari Keluarga Saat dipondok itu Menyakitkan... karena aku jauh dari orang orang yang aku sayangaku hanya bisa menyendiri dan menyendiri Aku rindu dengan orang tuaku tuhan

05/03/2023 22:45 - Oleh Admin - Dilihat 1133 kali
Doa Petang

Semakin ku diam dalm gelap  Bertanya pada hati  Betapa banyak tinta yang kau buang Sebelum kau tuliskan? Afalaa ta'qiluun Aku terjatuh sedalam-dalamnya Dalam cermin doa

08/10/2021 00:30 - Oleh Admin - Dilihat 80 kali
Sudut Doa

Seribu titisan hujan Yang jatuh disela-sela malam  Menjadi bayangan yang tak diimpikan Kuharus melihat kekabutan malam Yang  bukan lagi igauan   Dengan pelan-pelan

07/10/2021 22:18 - Oleh Admin - Dilihat 138 kali
Hati Yang Sujud

Seorang gadis berteduh dibawah payung  Memeluk tubuh yang basah tersiram sendu Angin dingin membelainya Bibir menggigil tanpa suara  Menahan bulir yang akhirnya tumpah d

05/10/2021 22:03 - Oleh Admin - Dilihat 116 kali
Menuju Subuh

Gemercik air memecah lamunan Tetesan embun bening Meningkat kedapan pertemuan   @Bungkopisajen  

24/06/2021 10:18 - Oleh Admin - Dilihat 160 kali